
Nakal? Ya! Setiap Orang Tua pasti tidak mau anaknya nakal. Berbagai metode pun dipakai setiap Orang Tua agar anak mereka tidak melakukan hal yang tidak diharapkan. Namun ada beberapa metode yang menurut aku tidak seharusnya dilakukan karena metode itu akan berpengaruh pada anak kedepannya. Aku menulis diary yang berjudul tersebut agar menjadi bekalku saat nanti. Diary ini berdasarkan apa yang aku lihat dan beberapa referensi menjadi inspiraku untuk menulisnya. Oke langsung saja menuju cerita.
Saat itu aku berumur 12tahun. Aku berjalan bergandengan tangan dengan Ibuku habis jalan-jalan. Layakya anak-anak yang lain, aku disayang sekaligus aku diharapkan Ibuku agar aku menjadi anak yang sukses(karena aku adalah harapan terakhir ibuku). Sepanjang jalan, aku melihat seorang anak sebut saja namanya Boy(bukan nama sebenarnya). Dia anak berumur sekitar 8-9 tahun. aku mengenalnya karena dulu dia adik kelas waktu aku SD. Dia sering dimarahi ibunya karena dia nakal. Namun bukan nasehat yang dia dapat tapi kekerasan yang ia dapat. Tamparan dan pukulan sering ia alami. Aku bertanya pada ibuku apakah Orang Tua memukul anaknya itu dapat menghindari hal yang tidak diinginkan Orang tua tersebut? Ibuku hanya menjawab " Lihat saja nanti saat anak itu tumbuh dewasa". Aku pun terdiam dan tidak memikirkan apa yang terjadi saat anak itu dewasa karena dulu aku juga merasakan sakitnya dipukul karena kenakalanku sendiri. Yang anehnya dari metode didikan ibuku, aku bisa berpikir setiap perbuatan pasti ada salahnya (karena ibuku dulu memarahiku saat aku berantem dengan teman padahal aku itu tidak salah). Saat aku kelas 2 SMK atau kelas 11. aku bertemu dengan Boy dan terkejut. Karena dia menjadi anak yang lebih nakal daripada saat dia kecil. Perbedaanya waktu dia kecil dia tidak pernah melawan. Namun saat itu dia berani melawan Orang Tuanya sendiri. Tentu aku bingung kenapa anak itu bisa seperti itu. Dari referensi yang aku dapat, ternyata kelahiran seorang anak dari tahun ke tahun akan mengalami kesendirian dan emosi yang sangat tinggi. Aku juga merasakannya saat aku mengurus Anak kelas 10 saat kegiatan pramuka. Anak-anak atau adik kelas susah diatur dan emosionalnya lebih tinggi daripada kakak kelasnya sendiri. Jadi, Apa penyebab anak itu nakal sampai saat dia dewasa lebih naka lagi dan berani dengan orang yang lebih tua? Apakah hanya dari faktor pergaulannya?
Ternyata bukan hanya dari faktor pergaulannya saja. Namun dari Orang tua itu sendiri. Mental anak terdidik sejak awal dari Orang Tua, dan hasil didikannya pun akan menjadi buah manis atau menjadi buah yang pahit bagi Orang Tua itu sendiri. Jadi? apa yang harus dilakukan Orang Tua agar anaknya tidak nakal di masa kanak-kanak dan berakhir menjadi anak yang berbakti pada orang tua di masa mendatang? Aku mencoba memberikan tips sedikit mendidik anak melalui cara Ibuku(karena Ibuku juga yang dapat menjadi inspirasi dari tulisan ini). Semuanya aku alami dan aku menyadari dari didikan Ibuku sendiri.
Oke langsung saja tips mendidik anak versi IBUKU:
1. Buat logika/pikiran anak berjalan dan tidak memberikan kata larangan sepenuhnya.
Terdengar aneh namun nyata. Anak di masa kanak-kanak sangatlah menyenangkan. Lihat tingkah lucunya, tangisannya, dan kenakalan pertamanya. Nah saat itu nakal jangan langsung berkata "JANGAN NAKAL" karena seorang anak tidak akan merespon kata larangan. Jika anak mendengan "JANGAN NAKAL" maka anak hanya merespon "NAKAL". Jadi, anak itu tetap melakukan kenakalannya itu. Tidak percaya? buktikan saja atau lihat anak-anak di sekitar anda. Bagaimana caranya agar logika atau pikiran anak berjalan? Tetap jangan menggunakan respon larangan tentunya. gunakan kata-kata dengan nada larangan saat pertama. saat anak tidak merespon baru gunakan kata larangan namun membuat anak berpikir dua kali. sebagai contoh:
Aku memanjat pohon. Karena ibuku takut aku jatuh Ibuku melarangku naik pohon dengan berkata "ISRA?! TURUN!!!". Nah saat ini pasti aku(sebagai anak) akan berkata "TIDAK MAU!!". Itu adalah pancingan pertama untuk melancarkan kata-kata yang membuat anak berpikir dua kali. Lalu dengan nada larangan tapi agak halus Ibuku berkata " KALO GITU, GAK USAH PULANG. MAKAN, MINUM, MANDI, BUANG AIR DI SITU! GAK BOLEH TURUN!!! AWAS KALO TURUN!!". Ini membuatku(sebagai anak) berpikir dua kali. Otomatis aku langsung turun dari pohon itu.
Dengan metode pertama ini anda dapat membuat kata-kata larangan untuk anak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
2. Jangan sepenuhnya membenarkan anak.
Setiap Orang Tua pasti ada yang selalu membenarkan anaknya. Sampai anaknya dewasa pun Orang Tua itu tetap membenarkan anaknya. Namun akan berdampak kemanjaan pada anak tersebut. bagai mana caranya? Seperti di cerita di awal saat aku berantem dengan temanku walau aku dalam posisi yang benar, pasti Ibuku menyalahkan aku karena pasti ada yang salah pada diri aku sendiri. Metode ini bukan menghasilkan anak menjadi seorang pengecut. Namun lebih menjurus ke anak untuk Introspeksi diri. Sudah pasti anda yang membaca yang akan menjadi Orang Tua atau sudah, akan tau kata-kata apa yang dapat mendidik anak itu sendiri. Karena anda sendiri pun sudah pernah muda atau pernah kanak-kanak. :)
Mungkin itu sedikit tips mendidik dariku terinspirasi dari Ibuku pujaan hatiku(Lebay!) hehehe. Mungkin ada sedikit benar namun pasti ada salahnya, Karena Tips ini sesuai dengan pengalaman yang aku alam sendiri. Yang jelas "Anak adalah BUAH HATI ANDA. Manis dan Pahitnya kelakuan anak Terhadap anda, itu adalah HASIL dari DIDIKAN ANDA".
MAKE IT EASY, BUT PERFECT :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar